
Mataram, 6 Desember 2024 – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan global, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TBC terbanyak. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyerang paru-paru dan dapat menyebar melalui udara.
Menurut data Kementerian Kesehatan, meskipun upaya penanggulangan terus dilakukan, kasus TBC di Indonesia masih tinggi, khususnya di daerah-daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB). Salah satu kendala utama dalam penanganan TBC adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini dan pengobatan tepat waktu.
Pihak Dinas Kesehatan NTB melaporkan bahwa banyak pasien tidak menyelesaikan pengobatan hingga tuntas, sehingga meningkatkan risiko resistansi obat dan penyebaran bakteri yang lebih sulit diatasi. Untuk mengatasi masalah ini, berbagai program inovatif diluncurkan, termasuk pelayanan berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk memonitor pasien.
Sebagai salah satu upaya, lembaga swasta dan pemerintah meluncurkan sistem pengisian Community-Based Monitoring Feedback (CBMF), yang memungkinkan pasien memberikan umpan balik terkait layanan kesehatan. Langkah ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas layanan tetapi juga memastikan pasien tidak terputus dari pengobatan.
Selain itu, sosialisasi mengenai pentingnya gaya hidup sehat, kebersihan lingkungan, serta deteksi dini terus digalakkan melalui kampanye di sekolah, tempat kerja, hingga komunitas lokal. Edukasi berbasis digital, seperti aplikasi dan media sosial, juga dimanfaatkan untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Diharapkan dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat, angka kasus TBC dapat ditekan secara signifikan. “Kita semua memiliki peran dalam memerangi TBC. Tidak hanya pasien, tetapi juga keluarga dan komunitas harus bersatu untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” ujar seorang tenaga medis di Mataram.
Melalui kerja sama yang berkelanjutan, Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030 sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan harapan ini.